Pemain Arema Fc Ungkap Bukan Karena Ketidakpuasan Para Pendukungnya Melainkan Bentrokan Dengan Pihak Keamanan

Pemain Arema FC, Sergio Silva memberanikan diri menjelaskan pengalaman pahit ketika tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu 1 Oktober 2022
Pemain Arema FC, Sergio Silva memberanikan diri menjelaskan pengalaman pahit ketika tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu 1 Oktober 2022

NEXTSPORT.ID – Pemain Arema FC, Sergio Silva memberanikan diri menjelaskan pengalaman pahit ketika tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu 1 Oktober 2022.

Pemain asal Portugal itu menyebutkan tak pernah menyangka kerusuhan itu dapat memakan banyak korban.

Perlu diketahui sebelumnya, tragedi mengerikan itu terjadi setelah pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 di pekan ke-11 Liga 1 2022-2023. Laga mulanya berjalan lancar sejak awal.

Namun karena kekalahan itu, Aremania mulai masuk ke lapangan usai pertandingan itu berakhir. Aksi itu langsung mengakibatkan pihak keamanan bertindak untuk meredam ratusan suporter yang masuk ke dalam lapangan.

Sayangnya, pihak keamanan justru menembakan gas air mata ke tribun penonton, yang jelas-jelas itu bukan mereka sasarannya.

Aksi itupun juga sebetulnya salah sebab FIFA melarang gas air mata untuk mengamankan massa di dalam stadion.

Akhirnya, para penonton yang berada di tribun menjadi panik usai pihak keamanan menembakan gas air mata. Mereka mulai berdesak-desakan untuk dapat keluar dari perih serta sesaknya karena gas itu.

Celakanya, banyak diantara mereka yang terinjak-injak dan mengalami sesak nafas karena gas air mata yang ditembakan pihak keamanan ke tribun.

Apalagi, menurut informasi yang diberikan oleh pihak kepolisian,sampai saat ini terdata 125 orang meninggal dunia akibat tragedi itu. Insiden yang menelan banyak korban jiwa itu menjadi sorotan belahan dunia.

Silva pun menceritakan apa yang dialami olehnya di lokasi kepada media A Bola, tempat dia berasal yaitu Portugal. Bek berusia 28 tahun itu mengungkapkan kalau awalnya dia dan para pemain seperti biasa ingin menghampiri suporter sebagai bentuk penghormatan atas dukungan yang diberikan kendati menelan kekalahan.

Namun ketika banyak pendukung yang masuk ke dalam lapangan, Silva dan para pemain lainnya akhirnya memilih untuk segera masuk ke ruang ganti.

“Ini adalah derby yang sebanding dengan FC Porto-Benfica. Ini adalah pertandingan yang membuat stadion penuh. Namun karena bisa menimbulkan risiko, kehadiran suporter Persebaya tidak diperbolehkan. Kami tidak pernah berpikir bisa sampai seperti ini,” kata Silva, dikutip dari A Bola, Senin (3/10/2022).

“Meski kalah, kami akan berjalan-jalan di sekitar stadion untuk menghormati para penggemar, langkah itu terbatas pada pertemuan di tengah lapangan. Kami menerima indikasi dengan beberapa penggemar di lapangan, saya pikir banyak yang datang untuk memberi dukungan dan bukan untuk menyerang, tetapi lebih baik pergi ke ruang ganti,” lanjutnya.

Silva mengungkapkan kalau skuad berjuluk Singo Edan itu berlindung di ruang ganti selama berjam-jam. Hingga akhirnya, kejadian mencekam mulai terjadi ketika para penonton mulai berteriak. Dia mengaku bahwa melihat banyak darah di koridor dan melihat langsung suporter yang sudah tidak bernyawa.
“Kami menghabiskan empat atau lima jam di ruang ganti, dibarikade dengan meja dan kursi untuk menahan pintu. Kami hanya merasa sedikit aman! Kami tidak mengetahui apa-apa, ada banyak kebisingan, keributan dan jeritan di koridor. Kami tidak tahu apakah orang-orang meneriaki kami atau karena tertekan. Hingga sampai pada titik di mana Anda bisa mengatakan itu (teriakan) karena penderitaan,” ungkapnya.

“Orang-orang putus asa, mereka telah melihat orang mati dan mencoba melarikan diri. Kami akhirnya membiarkan beberapa dari orang-orang ini. Semua orang tewas dan terluka telah dievakuasi. Beberapa telah meninggal di dekat pemandian. Kami juga tahu bahwa kerabat salah satu asisten kami telah meninggal,” sambungnya.

Lebih lanjut, Silva mengungkapkan kalau itu merupakan kejadian mengerikan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Menurutnya, tragedi mengerikan di Stadion Kanjuruhan itu bukan karena rasa ketidakpuasan para pendukungnya melainkan bentrokan dengan pihak keamanan.

“Saya hanya bisa menyebutkan skenario mengerikan, kehancuran, perang, mobil polisi terbakar, semuanya rusak, koridor dengan darah, sepatu orang-orang. Tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Ada ketidakpuasan dengan kekalahan itu, tetapi saya pikir sebagian besar suporter bereaksi terhadap polisi, dan situasi menjadi tidak terkendali. Polisi juga akan berusaha membela diri. Situasinya sulit,” tutup Silva.

BACA JUGA:  Thailand Dinangui Rasa Was-Was Hadapi Timnas Indonesia di SUGBK, Jelang Piala AFF 2022
close